Showing posts with label drama. Show all posts
Showing posts with label drama. Show all posts
Monday, November 21, 2016
Contoh Naskah Drama Lucu Komedi Terbaru
Contoh Naskah Drama Lucu Komedi Terbaru
Artikel Naskah Drama Komedian | Contoh Teks Drama Komedi Lucu. Yang namanya Drama selalu memberikan cerita menarik untuk bagi kita semua, tak jarang walaupun Drama merupakan pertunjukan seni yang udah dari jaman dahulu tetapi sangat menarik untuk dinikmati. kalian semua tentu pernah melihat pementasan Drama kan? biaanya mengambil dari Drama Legenda atau Cerita Rakyat, yang mana memiliki tujuan yang sangat menghibur namun tak meninggalkan amanat yang terkandung didalam cerita. nah buat sobat semua yang sedang mencari-cari artikel tentang Contoh Drama Komedi lucu untuk 4, 5, 6, 7 orang tentu drama ini sangat cocok bila dipentaskan disekolah.

Nah, untuk ceritanya akan admin review sedikit. disini diceritakan seseorang yang tak pernah puas dengan dirinya sendiri. memang sudah menjadi watak manusia kali yaa, yang selalu ingin lebih tanpa lupa beryukur dengan apa yang sudah kita miliki dan punyai, memang boleh bila kita berambisi untuk hidup lebih maju, tetapi ya jangan sampe lupa caranya beryukur, dan hanya mengeluh terus-terusan. ingin tahu cerita lengkapnya ? berikut silahkan disimak.
"Jadilah Diri Sendiri"
BABAK I
(ketika semua sudah lengkap, maka narator masuk ke panggung dan mulai bercerita)
Narator : alkisah di sebuah hutan terdapat seorang tukang batu yang pemalas, suka mengeluh dan selalu tidak puas dengan dirinya sendiri.
Tukang Batu : aduh hari ini aku harus bekerja. Pasti nanti capek sekali. Enakan aq duduk duduk dulu. (duduk di sebuah batu)
Batu : (bergerak gerak)wadow sakit tau ! (Sambil marah-marah).Bau lagi! Kentut ya? (sambil menutup hidung)
Tukang Batu : (Terkejut dan takut) Maaf, dikit. Lho, batu kok bisa ngomong ?
Batu : ini kan Cuma drama
Tukang Batu : O .
Batu : Awas ! (mengancam dan mengacung acungkan kepalanya)
(Tukang batu pun ketakutan lalu melihat-lihat sekeliling, mencari tempat untuk bersandar. Kemudian dia melihat pohon dibelakangnya)
Tukang Batu : kebetulan ada pohon. Bisa bersandar nih!
Pohon : aduuuuuuuuuh.. hati hati dong, lecet neh.
Tukang Batu : (Terkejut) Lho kok pohon juga bisa ngomong?
Pohon : Wah menghina ya. Aku adalah pohon ajaib. Aku bisa melakukan apa saja. Bahkan aku bisa menyanyi dan menari (menyombongkan diri)
Tukang Batu : masak sih ?
(pertama tama pohon menyanyi seriosa dan tukang batupun menutup kupingnya karena suara pohon yang melengking dan jelek. Lalu mulai menari. Setelah selesai, tukang batu hanya bisa terkejut)
Tukang Batu : Wah pohon yang aneh. (menggeleng-gelengkan kepala sambil pergi meninggalkan pohon itu)
BABAK II
Narator : (ketika narator masuk, semua menjadi patung dengan gaya yang aneh). Lalu datanglah sebuah matahari yang sinarnya sangat panas menyengat.
Tukang Batu : wah .. panas sekali ya! (sambil sesekali mengipasi dirinya. Lalu mengusap keringatnya dengan sapu tanggan nya dan tidak sengaja memerasnya di sebelah batu)
Batu : Wadooooooooooooooooooow ! hei, jangan disini dong tukan batu! Uda keringatnya bau asem lagi. (sambil menutup hidung)
Tukang Batu : (Terkejut) maaf. Eh emangnya batu punya hidung ya?
Batu : idiiiiiiih . sebel deh . ini kan Cuma boong-boongan tau !
Tukang batu : (Pergi menjauh ) Pemarah sekali si batu itu . tapi memang panas sekal. Ini pasti karena si matahari itu.
Matahari : Ha .ha ha. ya aku yang menyebabkan panas ini.. ha .. ha ha (Logat batak)
Tukang Batu : (menutup hidung karena bau) wah, enak sekali ya menjadi matahari. Bisa member panas tapi dia sendiri tidak kepanasan.
Matahari : iya dong. Aku gitu loh (sambil bergaya fungky)
Tukang Batu : (berfikir lalau dapat ide). Hmmmmmm matahari, bagaimana kalau kita bertukar tempat saja. Aku menjadi matahari, dan kamu menjadi Tukang Batu. Bagaimana?
Matahari : (Tampak berfikir). Bagaimana ya? Baiklah, tapi ada syaratnya?
Tukang Batu : apa syaratnya? (penasaran)
Matahari : Kau harus member aku sepiring nasi dengan lauknya. Bagaimana? Hahahahaha
Tukang Batu : Itu sih gampang.
Matahari : eiiitt tunggu dulu. Sepiring nasi dengan lauk sate,gulai,soto,ayam goring,ayam bakar,ikan gurami,capcai,telor dadar, telor mata sapi yang melirik ke kiri. Ok?
Tukang Batu : haaaa! (terkejut) banyak sekali! Tapi baiklah. Sebentar ya!
(Tukang Batu pulang ke rumahnya untuk mengambil makanan yang di minta matahari, sedangkan matahari sudah lapar dan ingin segera mencicipi masakan tersebut. Tak lama kemudian Tukang Batu masuk sambil membawa masakan yang dijanjikannya)
Tukang Batu : nih !
Matahari : bah! Dimana pila sambal terasinya?
Tukang Batu : sambal terasi? Tadi kan kamu tidak minta?
Matahari : wah-wah-wah hei penonton, enak gak klo kita makan tanpa sambal terasi? (Tanya ke penonton). Nah, dengar tidak, semua orang setuju kalau tanpa sambal, makanan kita jadi tidak enak.
(Dengan terpaksa, tukang batu membuat sambal di atas batu)
Batu : Wadooooooooow. Aduh. Kamu lagi, kamu lagi. Seneng pula kau menggangu aku. Liat nih gara-gara kamu . Kepalaku jadi benzol-benzol. Lho kok aku jadi logat batak juga sih (marah-marah sambil menunjukan kepalanya yang benjol)
Tukang Batu : maaf
Batu : Awas ya!
(Lalu mereka berdua berganti kostum, dan naratorpun masuk)
BABAK III
Narator : akhirnya tukang batu itupun menjadi sebuah matahari. Dan si matahari berubah menjadi seorang tukang batu. Haaa haa ha,,
Matahari : Maaf bu. Itu kan ketawa aku. Kok ibu zadi ikut-ikutan ketawa seperti itu.
Narator : (malu) Maaf (lalu pergi)
Tukang Batu : Asyiiiiiiik! Ahirnya aku menjadi matahari.
Batu : Wadoooow. Jangan dekat-dekat dong! panas sekali! jauh-jauh sana! Awas!
(tukang batupun takut dan menjauh ke arah pohon)
Pohon : Hei pergi sana jangan dekat-dekat. Panas nih. Kalau tidak Ciaatt (berpose silat, meniru gaya hewan : elang menyambar, ular mencaplok, dan harimau mencengkram)
Tuakang Batu : iya iya. Dasar batu dan pohon-pohon pemarah. Ah sudahlah. Tapi enak sekali menjadi matahari.
(Lalu datanglah sebuah awan hitam, yang terus mengejar matahari dan berdiri di depannya. Tukang batupun jengkel)
Tuakang Batu : Hei . Awan hitam. Panggungnya kan masih luas. Kenapa sih, selalu ada di depanku?
Awan Hiatm : Hei matahari, kamu tidak tahu siapa aku ya?. Aku ini awan hitam. Sebentar lagi, aku akan menurunkan hujan. Makanya kamu harus sembunyi dulu.
Tukang Batu : O . Begitu ya?
Awan Hitam : Iya. Masak tidak tau sih
(Tukang batu menggeleng-geleng)
Tukang Batu : (Berfikir) wah enak dong menjadi awan hitam (Berkata dengan dirinya sendiri). Eh awan hitam, mau tukaran tempat tidak. Aku menjadi awan hitam dan kamu menjadi matahari. Bagaimana?
(ketika awan hitam sedang berfikir, tiba-tiba narator datang)
Awan Hitam : Bu narator, kok sudah muncul sih. Kan belum waktunya?
Narator : lho iya ya? Wah bilang dong dari tadi, kalau belum saatnya muncul. Maaf para penonton. Kalian sih, jadi malu nih. (marah-marah sambil menyalakan mereka berdua)
Tukang Batu : bagaimana?
Awan Hitam : Hmmmmmmm . (mengeleng-geleng smabil berfikir) baiklah, tapi ada syaratnya?
Tukang Batu : (menggeleng-geleng sambil menghela nafas) apa syaratnya ?
Awan Hitam : Mudah yaitu mobil mewah dan rumah mewah.
Tukang Batu : (terkejut) wah itu sih susah. Eh tapi tunggu dulu. (Tukang Batu masuk ke dalam. Lalu keluar lagi sambil membawa mobil-mobilan dan rumah-rumahan). Bagaimana kalau mobil-mobilan dan rumah-rumahan mewah?
Awan Hitam : (terkejut) apa! (mengeleng-geleng) baiklah. Terpaksa!
(lalu mereka bertukar tempat,tiba-tiba datang ibu narator. Semua menjadi patung. Tapi ibu narator lama tidak ngomong-ngomong)
Batu : Bu . Ibu narator. Kok tidak ngomong-ngomong ya?
Narator : siapa bilang saya mau ngomong. Saya kan Cuma mau nampang doing. (sambil melambai-lambaikan tangan ke penonton)
Semua Personil : Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu ..!
Narator : kenapa sih sirik aja. Memangnya tidak boleh. (pergi sambil ngomel-ngomel)
Tukang Batu : asyiiik. Sekarang aku menjadi awan hitam. Aku bisa menutup-nutupi matahari. Oh ya, aku juga bisa membuat hujan yang sanggat lebat. Ha ..ha .ha
(tiba-tiba matahari yang menjadi tukang batu datang)
Matahari : he..he itu kan ketawa aku
Tukang Batu : maaf. Wah sekarang aku mau menurunkan hujan yang sangat lebat. Wuuuuuuuuuuuuus (sambil menendang-nendang tumbuhan kecil. Lalu datang seseorang yang tertarik angin. Trus datang lagi orang berpayung, yang payungnya sampai rusak,menghadap ke atas)
Tukang Batu : asyiiik. Aku berkuasa sekarang.
Tukang Batu : ha ..(tiba-tiba ingat matahari yang marah bila ketawanya ditirukan). Ups. (tiba-tiba tukang batu heran melihat batu yang tidak bergeser sedikitpun). Hai, batu. Kok kamu tidak rusak sedikitpun?
Batu : Hai awan hitam? Mikir dong! Aku kan Batu. Liat aku sangat kuat. (sambil memamerkan ototnya). Jadi aku tidak akan rusak.
Tukang Batu : o .. begitu ya. (berfikir). Hmmmm.. ngomong-ngomong batu, mau tidak kita tukaran tempat?
Batu : Apa! (berteriak keras). Kamu fikir aku bodoh ya, bisa kamu suap seperti si matahari dan awan hitam.
Tukang Batu : Ayolah! Apapun syaratnya, aku akan penuhi! (sambil ketakutan)
Batu : tidak! (masih marah dan berteriak) enak saja!
Tukang Batu :Please!
Batu : Tidak
Tukang Batu : He, mau tidak? (marah sambil mencengkeram kerah baju si batu)
(Si batupun ketakutan)
Batu : eh.. iya deh kalau begitu. Jangan marah dong! Gitu saja marah! (merayu si tukang batu). Nih! (menyerahkan kostumnya)
Available link for download
Saturday, November 12, 2016
Contoh sebuah Drama
Contoh sebuah Drama
Disini saya akan memberikan sebuah contoh drama yang agak banyak humornya :D yang berjudul Penculikan!! Semoga kalian senang membacanya !!
Penculikan
Di sebuah rumah mewah dengan perabotan yang mahal, tampak dari ruang keluarga seorang paman yang tengah memasak di dapur. Tiba tiba telepon berdering (kring
kring
). Dia langsung bergegas ke ruang tengah untuk mengangkat telepon sambil memegang ulekan di tangannya.
Paman : (Mengangkat telepon) Halo
Penculik : Apa benar ini kediaman Ayah Kiki?
Paman : Ya, benar. Ini siapa ya?
Penculik : Saya penculik.
Paman : Oh
tunggu sebentar ya! Pak ada telepon dari penculik! Eh
tunggu idulu, yang nelpon tadi
penculik
??? (Pingsan seketika)
Ayah Kiki : (Datang menghampiri paman) Ada apa sih paman? Ya ampun paman! Kok itidur disini sih?! (Sambil menutup gagang telepon)
(Tiba tiba telepon berdering (kring
kring
). Ayah Kiki langsung duduk dan mengangkat ulekan. Ia mengira ulekan itu adalah telepon)
Ayah Kiki : (Mengangkat ulekan) Halo
halo
Aduh maaf ya, suaranya kurang ijelas nih
(Melihat ulekan yang dipegangnya) Oh iya salah
i(Kemudian mengangkat gagang telepon) Halo
Penculik : Ini dengan Ayah kiki?
Ayah Kiki : Ya dengan saya sendiri. Ini siapa ya?
Penculik : Saya penculik!
Ayah Kiki : Pe
pe
penculik?!
Penculik : Ya, saya sudah berhasil menculik anak Bapak. Kalau ingin anak Bapak kembali, Bapak harus membayar uang tebusan sebesar Rp 1 Milyar!
Ayah Kiki : Apa! 1 Milyar?!
Penculik : Ya! Dan ingat, jangan laporkan hal ini pada polisi!
Ayah Kiki : I
iya
ya
ya
Dimana saya memberikan uang tebusan itu
Penculik i: Di rumah kosong, Gg. Sukabangkrut. Saya tunggu sampai jam 03.00 sore. (Menutup telepon)
Paman :i(Tiba tiba siuman) Laporin aja ke polisi pak! 1 Milyar itu kan banyak pak!
Ayah Kiki : Lho? Kok kamu dengar sih? Kamu tidur atau nguping?
Paman : Mmm
dua duanya Pak
(Sambil menggaruk kepala) Tapi, pokok nya laporin aja deh Pak!
Available link for download
Read more »
Monday, November 7, 2016
contoh dialog teks drama BERBAHASA JAWA
contoh dialog teks drama BERBAHASA JAWA
Hai sobat, pada kesempatan ini saya mencoba menshare dialog / teks drama BERBAHASA JAWA tentang anak yang durhaka, tanpa basa basi lagi yuk segera dilihat
PERCAKAPAN TENTANG CARA MENGHORMATI ORANG TUA
Ibu : Uhuk... uhuk....
Murni : Ibuk ki iso meneng po ra? Aku sek sinau ki lo!.
Ibu : Hoalah nduk, ibuk ki sakit watuk.
Murni : Lek watuk yo neng dokter to! Mbrebeki uwong ae!.
Bapak : Enek opo to iki kok ramemen teko njobo, isin karo tonggo.
Murni : Bojomu iki lo pak mbrebeki uwong ae!.
Bapak : Huss!, Omong karo wong tuek ki gak oleh mbentak-mbentak ngono kui!, Ayo nyuwun ngapuro neng ibuk.
Murni : Gah!, Ibuk sing salah kudune ibuk sing nyuwun ngapuro karo aku. ( mlaku ngaleh)
Bapak : Astagfirullah...., anak e sopo iki.
Ibu : Wis pak, sabar mawon.
Bapak : Iyo buk.
Sesuk esuk e Murni bengak bengok nggolek i sepatune sing ora ketemu.
Murni : Bapak, ibuk sepatuku nyandi?.
Ibu : Lha sing ndekek dekingi sopo?. Sing sekolah kan awakmu mur, duduk ibuk.
Murni : Pokoke ibuk kudu nggoleki sampek ketemu!.
Dumadakan bapak teko.
Bapak : Mur!, Siti karo Karjo wis marani ki lo!.
Murni : Buk sepatune gowonen rene!. Bapak, endi sangune?.
Bapak : Bapak gak nduwe duwit nduk !.
Murni : Bapak ki kewajibane kudu nggolek duwit sing akeh kanggo anak anak e!.
Ibu : Iki nduk sepatumu.
Murni : Alah kesuen!. Jo, ti, ayo budal.
Murni, Siti lan Karjo mlaku tumuju neng sekolahan. Neng ndalan cah telu kuwi guneman.
Siti : Mur murni, kowe gak oleh khayal marang bapak ibumu.
Murni : Sak sirku to urip uripku nyapo kowe bingung.
Karjo : Anak durhaka kowe mur!, Ayo ti ditinggal ngaleh ae cah durhaka iki!.
Murni : Yo ra konco kowe!.
Karjo lan Siti mlaku ninggalake Murni. Teko sekolahan bel muni, kabeh murid mlebu neng njero kelas.
Bu guru : Cah ayo ditakne PR e !, Sing ora ngerjakne maju.
Murni langsung maju amarga ora nggarap PR.
Bu guru : Nyapo mur ora ngerjakne PR?.
Murni : Wonten gangguan bu!.
Bu guru : Alasan ae!, gangguan opo?.
Murni : Ibuk niku watuk watuk mawon bu?.
Siti : Murni niku gawene mbentak mbentak wong tuane lo bu!.
Bu guru : Opo iyo mur?.
Murni : Eeeengih.
Bu guru : Engko bar pelajaran Murni melu Bu guru nyang kantor.
Murni : Nggih bu!.
Pelajaran wis sampe Murni dipanggil guru neng kantor.
Murni : Wonten nopo bu?.
Bu guru : Lungguh kene !. Mur, opo bener kowe mbentaki ibukmu!.
Murni : Eeeenggih.
Bu guru : Ngono kuwi ki gak oleh lo mur, marang wong tua ki gak oleh koyo ngono!.
Murni : Inggih bu.
Bu guru : Sok neh ojo tak baleni neh.
Telpon ning kantor muni, kring...kring...kring. Pak guru ngangkat telpon.
Pak guru : Assalamualaikum Wr.Wb.
Bapak : Waalaikumsalam Wr.Wb.
Pak guru : Wonten nopo pak?.
Bapak : Murni dikengken dateng rumah sakit angsal?.
Pak guru : Angsal mawon, wonten nopo pak?.
Bapak : Ibuk e mlebet rumah sakit.
Pak guru : Oooo. Inggih pak.
Murni kalian pak guru tindak dateng rumah sakit
Murni : Pak ibuk endi?.
Pak guru : Husss. Boso ning wong tua !.
Murni : Bapak ibuk pundi ?.
Bapak : Ning njero.
GRODOOOOKKK. Dokter mbukak lawang.
Murni : Pripun bu keadaannipun ibuk ?.
Dokter : Ibuk gadah penyakit jantung.
Bapak : Asstagfirullah.
Ibuk bengak bengok neng jero kamar.
Ibu : Bapak bapak.
Kabeh mlayu ning njero kamar.
Ibu : Pak jogenen omah karo murni, aku wis ora kuat.
Dokter : Inalillahi wainnalillahi rojiun.
Murni : Ibuk ibuk.(karo nangis)
Bapak : Sabar.
Ning kuburan
Murni : Bapak aku minta maaf.
Bapak : Yo nduk.
semoga cuplikan teks drama diatas bisa membantu anda untuk melaksanakan tugas dari guru, ataupun anda juga bisa mengambil hikmah dari cuplikan drama tersebut.
PERHATIAN !!!!
Boleh di copas Asalkan dicantumkan alamat SUMBERNYA !!!
Available link for download
Subscribe to:
Posts (Atom)